Sekudus Pinangan

Udara nyaman dihela puas. Seharian terperuk di dalam teratak usang memang merimaskan. Rumah setingkat dari kombinasi binaan batu dan papan itu terletak jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan, berdiri rendah di celah penempatan yang masih dara. Kondisi persekitarannya aman diselimuti kehijauan alam dan bisikan unggas. Cukup mendamaikan. Kelihatan beberapa lembaga berkerudung gigih membersih sekangkang kera halaman. Sebahagian lagi sibuk merapikan batas yang padat berjenis sayuran segar.

Rembesan peluh amat melekitkan kulit. Terik mentari seolah-olah menembus lapisan pakaian yang lencun. Nis mencapai tuala kecil separa terlilit di leher lalu mengusap lembut wajahnya, membuang sisa-sisa peluh sambil menapak perlahan-lahan menuju buaian di bawah wakaf untuk melepas lelah. Sudah hampir tiga jam sekumpulan perempuan itu bergotong-royong. Nis membuang pandang pada sekeliling kawasan. Mindanya terawang-awang dipuput kenangan lalu, melayang melewati hikayat si penjerat.

“Kenapa Nis diam? Ada problem ke?”

Bebola matanya menengok pada gelas yang masih bersisa, sambil tangan ligat bermain straw mengaduk ais. Zamri yang duduk bertentang langsung tidak dipedulikan.

“Nis…Saya tengah cakap dengan awak ni…” Zamri makin bosan bertanya. Lain sekali fiil Nis malam ini, tidak seperti selalu. “Period ke apa?” sangkanya sendiri. Read More